Program Pendidikan As-Sunnah - Jazirah Arab

Menyemai di Ladang Subur | 6 Juli 2009

Menyemai di Ladang Subur

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Asasuddin

Alhamdulillah, segala bentuk pujian yang sempurna kami aturkan kepada Allah yang telah memberikan beragam kenikmatan kepada hamba-Nya, yang dengannya seorang hamba menyadari akan keagungan Allah subhanahu wata’ala.

Pembaca rahimakumullah, dari sekian nama Allah yang sering kita dengar dan lantunkan adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Kedua nama yang mengandung konsekuensi bahwa Allah Mahakasih dan sayang kepada hamba-Nya, yang kafir ataupun yang beriman. Namun, hamba yang beriman mendapat kasih sayang yang berlanjut hingga hari akhir berupa Jannatun Na’im. Kasih sayang-Nya mendahului sifat murka-Nya. Kadang suatu hal yang wajib menjadi gugur kewajiban di saat hamba tidak mampu melakukanya dan ia bisa mengganti pada saat ia mampu. Ada pula amalan yang mudah dan remeh, tetapi sangat berat timbangan pahala di sisi-Nya dan ada pula yang dilipatkan pahalanya beberapa kali lipat. Kesemuanya itu menujukkan kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya. Pintu-pintu kebaikan terbuka dengan lebar dan jalan menuju pintu kebaikan telah dipermudah oleh Allah, tinggal kita sebagai hamba untuk berpacu dan bersaing meraih kebaikan-kebaikan yang akan bermanfaat bagi dirinya di akhirat kelak.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ

“Bersemangatlah untuk melakukan apa yang bermanfaat bagimu dan hendaklah meminta pertolongan kepada Allah dan jangan bermalas-malasan untuk melakukan kebajikan.” (HR Muslim)

Dunia hakikatnya adalah ladang untuk kita bercocok tanam yang akan kita petik hasilnya kelak di hadapan Pemilik alam semesta ini. Semakin banyak yang ia tanam, semakin banyak pula yang akan dipetiknya. Setiap jiwa bergantung kepada apa yang diusahakan di dunia. Dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا

“Setiap manusia berbuat sesuatu. Ada yang melakukan amal kebajikan maka ia telah membebaskan dirinya dari api neraka. Ada pula yang melakukan kejelekan maka ia telah membinasakan dirinya.” (HR Tirmidzi)

Pembaca rahimakumullah, dunia pendidikan kalau kita cermati bersama maka kita akan memberi kesimpulan bahwa di dalamnya terdapat beragam kebaikan. Tarbiyah (mendidik) sebagai proses transfer ilmu kepada anak-anak sebagai langkah awal bagi anak untuk bisa berbuat, bertindak, serta bersikap normatif sesuai tuntunan agama. Ini merupakan tugas yang sangat mulia. Karena ilmu memiliki pengaruh besar untuk mengubah pola hidup manusia yang Allah ciptakan dengan beragam perangai, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam,

تَجِدُونَ النَّاسَ مَعَادِنَ خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الْإِسْلَامِ إِذَا فَقِهُوا

Dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah bersabda: “Kalian dapati manusia ibarat barang tambang dalam perut bumi, sebaik-baik manusia adalah orang yang berperangai baik di masa jahiliah, kemudian ia masuk Islam dan tetap di atas kebaikanya, lantas ia paham ilmu agama.”

Rasulullah memberikan perumpamaan tentang beragam perangai manusia, ibarat barang yang ditambang dalam perut bumi dengan segala jenis, warna, aroma, bermanfaat ataupun yang membahayakan, namun manusia senantiasa di atas kebaikan dan jalan yang lurus bila ilmu menghiasi dirinya. Perbedaan yang cukup mencolok antara pendidikan umum yang tidak imbangi dengan pengajaran agama Islam dibanding dengan pendidikan Islam yang lebih menititikberatkan pendidikan akhlak yang mulia. Mendidik memiliki makna dan garapan yang sangat luas. Sarana agar ilmu itu dipahami juga sangat banyak.

Walhasil, mendidik memerlukan ilmu dan bashirah/bahan ajar serta metodologi pengajaran. Di dalam Al-Quran dan As-Sunnah memuat kedua hal tersebut baik secara nash maupun tersirat. Mendidik ataupun mengajar anak bukan perkara yang mudah, bukan pekerjaan yang dilakukan secara serampangan, dan bukan pula hal yang bersifat sampingan. Mendidik dan mengajar anak sama kedudukanya dengan kebutuhan pokok dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap muslim yang mengaku dirinya memeluk agama yang hanif ini. Bahkan mendidik dan mengajar anak merupakan tugas yang harus dan mesti dilakukan oleh setiap orang tua karena perintah mengenainya datang dari Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana tersebut dalam surah At-Tahrim, ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu telah mengatakan sehubungan dengan tafsir ayat di atas bahwa upaya untuk terhindar dari api neraka adalah dengan mendidik serta mengajari mereka.

Seorang anak adalah amanat bagi kedua orang tuanya, kalbunya yang masih suci bak permata yang berkilau, bersih dari segala macam pahatan dan gambaran dan lebih siap untuk setiap pahatan apa pun serta selalu cenderung pada kebiasaan yang diberikan kepadanya. Jika ia dibiasakan untuk melakukan kebaikan, niscaya ia akan tumbuh menjadi orang yang baik dan kebahagian bagi kedua orang tuanya serta siapa saja yang ikut mendidik dan mengajarinya. Namun, jika sang anak dibiasakan dengan kejelekan dalam lingkungan yang buruk pula tanpa mendapatkan pengajaran dan pendidikan maka tidak menutup kemungkinan ia tumbuh menjadi seorang yang binasa dan celaka. Maka sudah menjadi keharusan bagi orang-orang yang berakal dan berhati ikhlas untuk menyingsingkan lengan bajunya dan bekerja dengan tulus menjaga generasi Islam di masa mendatang dari keterpurukan moral dan kebodohan karena disebabkan sikap tidak peduli seorang muslim terhadap saudaranya sesama muslim.

Melalui tulisan ini kami mengajak kaum muslimin untuk meraih pahala yang berlimpah melalui lembaga pendidikan yang sedang kita rintis. Di antara kebaikan tersebut:

1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersada:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Dari sahabat Abu Hurairah radhillahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menunjuki jalan kebaikan maka baginya pahala seperti pahala orang yang melakukannya tanpa dikurangi sedikit pun.” (HR Muslim)

2. وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”

3. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

“Dari Abu Umamah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi hingga semut dalam sarangnya serta ikan dalam lautan senantiasa mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan.”

Paham terhadap ilmu agama menandakan bahwa Allah menghendaki kebaikan baginya. Sebaliknya, bodoh terhadap urusan agama menandakan bahwa Allah tidak inginkan kebaikan padanya.

Kesempatan emas untuk meraih pahala yang berlipat ganda dapat dalam dunia pendidikan. Mencerdaskan anak kaum muslimin serta membimbing mereka kepada akhlak yang luhur adalah kewajiban bagi setiap muslim. Maka apa pun bentuknya guna mengantarkan anak kaum muslimin menuju kepada kebaikan mereka maka niscaya ia akan dapati balasanya di sisi Allah subhanahu wata’ala. Wallahu ta’ala a’lam


Ditulis dalam Nasihat

Tinggalkan sebuah Komentar »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

    Kategori

    Mutiara Salaf

    Blog Stats

    • 40,846 hits
%d blogger menyukai ini: